Kumpulan Lengkap Artikel Asuhan Kebidanan Terbaru 2023

ASUHAN KEBIDANAN INFERTILITAS



 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tidak lengkap rasanya sebuah keluarga tanpa kehadiran seorang anak. Celoteh, tangis, kemanjaan, dan kerewelan seorang anak bahkan adalah lantunan kehidupan yang mampu  menggelorakan cinta dan semangat hidup keduaorang tuanya. Bukankah salah satu tujuan pernikahan adalah  meneruskan keturunan? Apalagi bila buah hati yang dinanti adalah generasi yang diharapkan kelak bisa dididik menjadi seorang hamba Allah yang shalih. Anak adalah salah satu nikmat dari Allah. Maka, saat sang buah hati yang dinanti belum juga dikaruniakan oleh-Nya, hendaklah sepasang suami-istri tetapber-husnuzhon (berprasangka baik) dan ridha akan ketetapan Rabb-nya. Meski demikian, baik suami maupun istri hendaknya tetap terus berusaha dan berdoa. Bukan hanya sekedar doa  memohon kehadiran seorang anak, tetapi kehadiran anak-anak yang shalih dan shalihah. Salah satu  usaha yang bisa dilakukan adalah dari segi kesehatan. Bisa jadi ada sebab atau penyakit tertentu yang menyebabkan suami-istri tersebut sulit memiliki keturunan. Istilah yang mungkin sering kita dengar adalah “infertilitas”. Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan infertilitas?

1.2 Tujuan Umum
Untuk menambah pengetahuan dan pemahaman kita tentang proses infertilitas dan penannggulangannya.

1.3 Tujuan Khusus
Tujuan khusus dalam penyusunan laporan ini adalah:
Ø  Mengetahui arti infertilitas dan penyebabnya
Ø  Mengetahui macam2 infertilitas
Ø   Mengetahui penanggulangan infertilitas

1.4             Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian Infertilitas?
2.      Apa saja macam2 Infertilitas?
3.      Apa saja penyebab infertilitas?
4.      Bagaimana cara pengobatannya?
BAB II
Tinjauan Teori


2.1 Pengertian Infertilitas
Infertilitas adalah seorang istri tidak  hamil dalam waktu 1 tahun setelah menikah tanpa mempraktikkan kontrasepsi apapun.

2.2 Macam-Macam Infertilitas
·         Infertilitas primer adalah seorang istri belum pernah hamil meskipun sudah melakukan hubungan suami istri dan dihadapkan pada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan.
·         Infertilitas sekunder adalah istri pernah hamil, akan tetapi kemungkinan tidak terjadi kehamilan lagi walaupun bersenggama dan dihadapkan pada kemungkinan hamil selama 12 bulan

2.3  Penyebab Infertilitas
  1.    Infertilitas Disengaja
              a.    Oleh Suami
1)       Coitus interuptus adalah metode kontrasepsi tradisional, dimana pria mengeluarkan alat kelaminnya (penis) dari vagina sebelum pria mencapai ejakulasi.
2)      Kondom adalah selubung atau sarung karet yang terbuat dari bahan lateks (karet), plastic (vinil), bahan alami (produksi hewani) yang dipasang pada penis saat hubungan seksual.
3)      Sterilisasi (vasektomi) adalah suatu metode kontrasepsi minor pada pria yang sangat aman, sederhana dan sangat efektif, memakan waktu operasi yang singkat dan tidak memerlukan anastesi umum.

              b.    Oleh Istri
1)        Pantang berkala adalah menghindari senggama saatmasa subur yang ditentukan dengan masa haid.
2)      Cara kimiawi adalah penggunaan bahan kimiawi untuk mononaktifkan atau membunuh sperma,bahan kimia ini dikemas dalam bentuk salep ataupun tablet.
3)        Penggunaan kontrasepsi hormonal adalah penggunaan hormon esterogen dan progesterone di dalam tubuh untuk mencegah bertemunya sel ovum dan sel sperma.
       4)        Sterilisasi (tubektomi) adalah oklusi tuba sehingga spermatozoa dan ovum tidak dapat bertemu.

 2.    Infertilitas Tidak Disengaja

a.    Sebab-sebab pada suami
1)      Gangguaan spermatogenesis (aspermia, hyposspermia, necrospermia) : karena penyakit testis ataupun kelainan endokrin.
2)      Kelainan mekanisme sehingga sperma tidak dikeluarkan kedalm puncak vagina, misalnya impotensi, ejakulatio praecox, penutupan duktus deferens, hypospadia, phymosis.

b.    Sebab-sebab pada istri
1)        Gangguan ovulasi missal kelainan ovarium atau gangguan hormonal
2)        Kelainan mekanis yang mengalami penbuahan seperti kelainan tuba,     endometriosis, stenosis, kanalis cervikalis atau hymen, fluor albus.
Kemandulan yang disebabkan oleh istri : 40 – 50 %
Kemandulan yang disebabkan oleh suami : 35 -40 %
Sebab tidak jelas : 10 -20 %
Faktor-faktor yang mempengaruhi infertilitas, antara lain:
1.  Umur
2.  Lama infertilitas
3.  Stress
4.  Lingkungan
5.  Hubungan seksual
6.  Kondisi reproduksi wanita, meliputi cervix, uterus, dan sel telur
7.  Kondisi reproduksi pria, yaitu kualitas sperma dan seksualitas
Berikut penjelasannya:
(1) Umur                                    
Kemampuan reproduksi wanita menurun drastis setelah umur 35 tahun. Hal ini dikarenakan cadangan sel telur yang makin sedikit. Fase reproduksi wanita adalah masa sistem reproduksi wanita berjalan optimal sehingga wanita berkemampuan untuk hamil. Fase ini dimulai setelah fase pubertas sampai sebelum fase menopause.
Fase pubertas wanita adalah fase di saat wanita mulai dapat bereproduksi, yang ditandai dengan haid untuk pertama kalinya (disebut menarche) dan munculnya tanda-tanda kelamin sekunder, yaitu membesarnya payudara, tumbuhnya rambut di sekitar alat kelamin, dan timbunan lemak di pinggul. Fase pubertas wanita terjadi pada umur 11-13 tahun. Adapun fase menopause adalah fase di saat haid berhenti. Fase menopause terjadi pada umur 45-55 tahun.
Pada fase reproduksi, wanita memiliki 400 sel telur. Semenjak wanita mengalami menarche sampai menopause, wanita mengalami menstruasi secara periodik yaitu pelepasan satu sel telur. Jadi, wanita dapat mengalami menstruasi sampai sekitar 400 kali. Pada umur 35 tahun simpanan sel telur menipis dan mulai terjadi perubahan keseimbangan hormon sehingga kesempatan wanita untuk bisa hamil menurun drastis. Kualitas sel telur yang dihasilkan pun menurun sehingga tingkat keguguran meningkat. Sampai pada akhirnya kira-kira umur 45 tahun sel telur habis sehingga wanita tidak menstruasi lagi alias tidak dapat hamil lagi. Pemeriksaan cadangan sel telur dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah atau USG saat menstruasi hari ke-2 atau ke-3.
(2) Lama Infertilitas   
Berdasarkan laporan klinik fertilitas di Surabaya, lebih dari 50% pasangan dengan masalah infertilitas datang terlambat. Terlambat dalam artian umur makin tua, penyakit pada organ reproduksi yang makin parah, dan makin terbatasnya jenis pengobatan yang sesuai dengan pasangan tersebut.
(3) Stress
Stres memicu pengeluaran hormon kortisol yang mempengaruhi pengaturan hormon reproduksi.
(4) Lingkungan
Paparan terhadap racun seperti lem, bahan pelarut organik yang mudah menguap, silikon, pestisida, obat-obatan (misalnya: obat pelangsing), dan obat rekreasional (rokok, kafein, dan alkohol) dapat mempengaruhi sistem reproduksi. Kafein terkandung dalam kopi dan teh.
(5) Hubungan Seksual
Penyebab infertilitas ditinjau dari segi hubungan seksual meliputi: frekuensi, posisi, dan melakukannya tidak pada masa subur.
(6) Frekuensi
Hubungan intim (disebut koitus) atau onani (disebut masturbasi) yang dilakukan setiap hari akan mengurangi jumlah dan kepadatan sperma. Frekuensi yang dianjurkan adalah 2-3 kali seminggu sehingga memberi waktu testis memproduksi sperma dalam jumlah cukup dan matang.
(7) Posisi         
Infertilitas dipengaruhi oleh hubungan seksual yang berkualitas, yaitu dilakukan dengan frekuensi 2-3 kali seminggu, terjadi penetrasi dan tanpa kontrasepsi. Penetrasi adalah masuknya penis ke vagina sehingga sperma dapat dikeluarkan, yang nantinya akan bertemu sel telur yang “menunggu” di saluran telur wanita. Penetrasi terjadi bila penis tegang (ereksi). Oleh karena itu gangguan ereksi (disebut impotensi) dapat menyebabkan infertilitas. Penetrasi yang optimal dilakukan dengan cara posisi pria di atas, wanita di bawah. Sebagai tambahan, di bawah pantat wanita diberi bantal agar sperma dapat tertampung. Dianjurkan, setelah wanita menerima sperma, wanita berbaring selama 10 menit sampai 1 jam bertujuan memberi waktu pada sperma bergerak menuju saluran telur untuk bertemu sel telur.
(8) Masa Subur
Marak di tengah masyarakat bahwa supaya bisa hamil, saat berhubungan seksual wanita harus orgasme. Pernyataan itu keliru, karena kehamilan terjadi bila sel telur dan sperma bertemu. Hal yang juga perlu diingat adalah bahwa sel telur tidak dilepaskan karena orgasme. Satu sel telur dilepaskan oleh indung telur dalam setiap menstruasi, yaitu 14 hari sebelum menstruasi berikutnya. Peristiwa itu disebut ovulasi. Sel telur kemudian menunggu sperma di saluran telur (tuba falopi) selama kurang-lebih 48 jam. Masa tersebut disebut masa subur.
1.4  Pemeriksaan Yang Utama
          1.    Pemeriksaan ovulasi
a.    Terjadinya ovulasi dapat diketahui dengan berbagai pemeriksaan, antara lain:
1)        Pencatatan sehe basal dalm suatu kurve
2)        Pemeriksaan vaginal smear
3)        Pemeriksaan lender servik
4)        Pemeriksaan endometrium
5)        Pemeriksaan hormon seperti esterogen dan pregnandiol
b.    Sebab-sebab gangguan ovulasi
     1)        Faktor-faktor SSP : tumor, disfungsi hypothalamus, faktor psikogen,    disfungsi hypofise.
            2)        Faktor-faktor intermediate : gizi, penyakit kronis, penyakit metabolism
            3)        Faktor-faktor ovarial : tumor-tumor, disfungsi turner syndrome.
c.    Pengobatan :
Tergantung pada etilogi dapat berupa diet, thyroid hormon, operasi. Jika terdapat dysfungsi kelenjar hypofise dapat diusahakan :
1)        Pemberian oral pil
2)        Subtitusi terapi : pemberian FSI dan LH, chorionic gonadotropin
3)        Merangsang hipofise untuk menbuat FSH dan LH dengan pemberian Clamiphen.

2.    Pemeriksaan sperma
Sebaiknya dalam pemeriksaan ini, sperma yang telah dikeluarkan kemudian ditampung setelah abstinensia selama 3 hari dan diperiksa daln waktu 1 jan setelah keluar. Tujuan dilakukannya pemeriksaan ini untuk mengtahui jumlah sperma yang normal, bentuk serta pergerakan sperma yang normal. Eyakulate yang normal mempunyai sifat sebagai berikut :
a.    Volume sebanyak 2-5 cc
b.    Jumlah spermatozoa 100-120 juta/cc
c.    Pergerakan à 60% dari spermatozoa masih bergerak selama 4 jam setelah dikeluarkan.
Sedangkan eyakulate yang tidak normal sebanyak 25% , seorang yang fertile jumlah spermatozoanya sebanyak ≥ 60 juta/cc, pria yang subfertil  jumlah spermatozoanya sebanyak 20-6- juta/cc sedangakn pada pria yang steril jumlah spermatozoanya sebanyak ≤ 20 juta/ccd. 
  Sebab – sebab infertile pada pria, antara lain :
1)        Status gizi
2)        Penyakit-penyakit kelainan metabolis
3)        Keracunan
4)        Dysfungsi hypofise
5)        Kelainan traktus genetalis
e.    Terapi yang dapat diberikan
Umum         : hygien umum, mengurangi rokok serta minuman yang mengandung alcohol, istirahat cukup, pengobatan penyakit kronis dan metabolis
Hormonal    : testosterone, gestyltesto, humegon.
Operatif      : memperbaiki duktus deferens

BAB III
PENUTUP
                                                                            
3.1 Kesimpulan
Infertilitas diartikan sebagai kekurang mampuan pasangan untuk menghasilkan keturunan. Faktor-faktor yang mempengaruhi infertilitas, antara lain:
·       Umur
·       Lama infertilitas
·       Emosi
·       Lingkungan
·       Hubungan seksual
·       Kondisi reproduksi wanita, meliputi cervix, uterus, dan sel telur
·       Kondisi reproduksi pria, yaitu kualitas sperma dan seksualitas
3.2 Saran

Tentu dalam laporan ini masih banyak kekurangan-kekurangan, karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pihak-pihak pengajar dan juga pembaca. Penulis berharap semoga laporan ini dapat menjadi manfaat bagi para pembaca.

Daftar Pustaka

Manuaba. 2000. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta. Arcan.
Wiknjosastro. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Saifuddin. 2003. Buku Panduan Praktis Pelayanan KB. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
                                                    
FK Unpad. 1990. Ginekologi. Bandung. Elstar Offset.

Mansjoer. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1. Jakarta. Media Aesculapius.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

STRATEGI CUAN DARI YOUTUBE

STRATEGI CUAN DARI YOUTUBE
Pasti Cuan dijamin ampuh

CHATING DISINI YUK?

Header Ads Widget